Perang Elektronika di Kawasan Bawean
|  | |
|
SELAMA tiga menit hari Kamis 3 Juli lalu, sempat terjadi perang elektronika seru di atas Laut Jawa, sebelah barat laut Pulau Bawean, antara pesawat tempur supersonik mesin tunggal F-16 Fighting Falcon TNI AU dengan jet tempur supersonik bermesin ganda F-18 Hornet Angkatan Laut AS. Perang elektronika ini tambah seru lagi karena pada saat bersamaan, Hornet terus-menerus mengunci (lock) sasaran F-16 dengan peluru kendali yang siap setiap detik ditembakkan ke sasarannya.
D>small 2small 0< Hornet US Navy bersikap hostile (bermusuhan) saat berjumpa di atas perairan Bawean dengan dua F-16 Indonesian Air Force (IAF) Pangkalan Udara Madiun, Jawa Timur. Hari itu kedua pesawat IAF mendapat tugas untuk mengidentifikasi empat pesawat tak dikenal yang bermanuver dalam jalur penerbangan sipil Green 63 dekat Pulau Bawean atau sekitar 66 mil laut dari Surabaya. Manuver mereka mengganggu lalu lintas penerbangan komersial yang menggunakan jalur tersebut dan terlihat visual oleh awak kokpit pesawat Boeing 737-200 Bouraq yang tengah menuju Surabaya.
Kedua pesawat Hornet yang menghadang dua F-16 TNI AU melancarkan aksi jamming radar pesawat IAF. Namun, para penerbang F-16 mampu mengatasi perang ECM (Electronic Counter Measure) yang dilancarkan Hornet. Kedua F-16 mengatasinya dengan menghidupkan perangkat anti-jamming kemudian memasang alatnya pada moda otomatis sehingga usaha untuk menutup "mata" F-16 tidak berhasil dilakukan Hornet.
Kedua F-16 dalam kecepatan tinggi, sekitar 800 km per jam, masih tetap bisa melihat dengan baik posisi kedua pesawat Hornet. Bahkan, sejumlah Hornet lain yang dikirim oleh kapal induknya juga termonitor pada layar radar F-16. Tidak hanya itu, F-16 bila ingin dapat pula melepas rudal Sidewinder-nya ke sasaran Hornet.
"Menegangkan sekali. Mereka sudah lock (kunci) pesawat kami, tinggal menembak saja. Itu dapat dilihat pada layar (display) ada tanda bahwa kami sudah di-lock," ujar Kapten Ian Fuady, yang bersama Kapten Fajar mengawaki F-16 dengan call-sign Falcon 1 dalam paparannya di hadapan rombongan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Chappy Hakim, di Pangkalan Udara Iswahjudi, Madiun, hari Sabtu (5/7).
Guna menghindari dari peluru kendali yang bakal dilepas Hornet, awak F-16 melakukan beberapa manuver penghindar, antara lain hard break ke kiri dan ke kanan atau zig-zagging yang awaknya sampai terkena efek 9g atau sembilan kali gravitasi tarikan Bumi. Manuver ini adalah gerakan yang bisa melepaskan diri dari lock peluru kendali.
"Namun, selama itu posisi kami (Falcon 1 maupun Falcon 2) berada pada posisi menguntungkan, bisa pula (kalau mau) menembak mereka," tambahnya. Namun karena tugas kedua F-16 adalah misi identifikasi, mereka tidak menunjukkan sikap bermusuhan terhadap kedua F-18 Hornet.
Sikap bermusuhan kedua Hornet memudar setelah Kapten Tonny dan Kapten Satriyo melakukan manuver rocking the wing (menggerak-gerakan sayap) F-16 bernomor ekor TS-1602, isyarat internasional bahwa pesawat F-16 bernomor ekor TS-1603 yang diawaki Kapten Ian dan Kapten Fajar tidak mengancam.
Pangkalan Udara Iswahjudi yang hanya terletak sekitar 20 menit penerbangan diperintahkan Panglima Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional II Marsekal Muda Teddy Sumarno untuk mengirim pesawat F-16 ke lokasi, antara lain karena ada keluhan dari pesawat Bouraq Indonesia Airlines dan Mandala Airlines yang merasa terganggu atas manuver (latihan) yang dilakukan oleh sedikitnya lima Hornet. Jet tempur tersebut berasal dari kapal induk bertenaga nuklir, USS Carl Vinson, yakni super-carrier kelas Nimitz yang sedang berlayar dari arah barat ke timur bersama dua fregat dan sebuah kapal perusak Angkatan Laut AS. Kapal induk kelas Nimitz mengangkut 100 pesawat tempur, 16 pesawat pengintai, dan enam helikopter, diawaki oleh 3.184 kelasi dan perwira, 2.800 pilot dan awak pendukungnya, serta 70 personel lainnya. Kapal induk ini juga memiliki kemampuan melakukan perang elektronika.
Sudah dapat dipastikan, jamming yang dilakukan terhadap kedua F-16 Indonesia tidak dilakukan USS Vinson maupun kapal perusak US Navy. "Kalau mereka yang melakukan, di layar akan keluar kata ’unknown’," kata Komandan Skadron 3 Letkol Tatang Herliansyah yang diapit oleh keempat penerbang F-16 yang melaksanakan tugas identifikasi tersebut.
Dalam aturan internasional, jalur penerbangan komersial tidak boleh dipakai untuk manuver provokatif, apalagi sampai membahayakan pesawat lain. Pesawat apa pun yang menggunakan jalur ini harus melapor ke menara, dalam hal ini ke menara Bandar Udara Juanda (Surabaya Director). Laporan tersebut berkaitan erat dengan keselamatan penerbangan yang dituangkan dalam peraturan internasional ICAO (International Civil Aviation Organisation).
Mungkin menurut pengamatan Kompas, jika saja pesawat Hornet yang tengah mengawal konvoi kapal perang AS itu melapor keberadaannya, insiden 3 Juli kemarin kemungkinan tidak seheboh sekarang.
"PADA layar (monitor) lampu menyala dan (diiringi) bunyi tit… tit… tit… tit… tit…, mereka sudah mengunci rudal ke pesawat kami," papar Kapten Pnb Fajar Adriyanto, bersama Kapten Pnb Ian Fuady yang mengawaki F-16 berekor nomor TS-1603 dengan call- sign Falcon 1. Itu tandanya bahwa peluru kendali Sidewinder yang dibawa Hornet sudah siap ditembakkan ke arah Falcon 1.
"Jika bunyi tit-nya panjang seperti tiiiiiiit…. tiiiiiit…., berarti rudal sudah ditembakkan," ujar Kapten Fajar menambah keterangannya di hadapan KSAU Marsekal Chappy Hakim serta stafnya dan para wartawan. Marsekal Chappy Hakim datang ke Madiun untuk memberi apresiasi kepada mereka yang terlibat dalam tugas intersepsi pesawat Hornet di sekitar Bawean.
Dari hasil rekaman ulang perang elektronika kokpit Falcon 2 F-16 berekor nomor TS-1602 yang diawaki Kapten Pnb Tonny H dan Kapten Pnb Satriyo Utomo, jelas terlihat pesawat Falcon 1 yang sempat juga melakukan gerakan hard break belok dengan kemiringan hampir 90 derajat, secara ketat terus ditempel oleh Hornet 1. Sementara, Hornet kedua menguntit rekannya. Posisi Falcon 2 juga menguntungkan terhadap Hornet 2 sehingga bila suasana bermusuhan menjadi kenyataan, pasangan Kapten Tonny-Kapten Satriyo dapat membantu Falcon 1.
Saat menghindar dari rudal Sidewinder yang bakal ditembakkan setiap detik kepada mereka dengan membelokkan tajam F-16 mereka, mata Kapten Fajar masih sempat melihat kapal perusak US Navy dan langsung melaporkan penglihatannya itu.
"Kami memang sempat close fight dengan mereka, tetapi kita tidak melaksanakan ofensif. Kami mempunyai tugas dari panglima untuk melaksanakan intersepsi guna mencari data pesawat apa jenisnya, kemudian dari negara mana, apa tujuan mereka melaksanakan latihan," ujar Letkol Tatang Herliansyah.
Menurut para penerbang F-16, kontak visual mereka dengan Hornet terjadi pada ketinggian 15.000 kaki setelah terbang sekitar 10 menit. Pada jarak di bawah 40 mil laut, radar F-16 mereka sudah menangkap target F-18 sehingga kedua pesawat TNI AU langsung menuju ke sasaran terdekat dibantu oleh Surabaya Director. Mereka mendapat informasi ada dua sasaran, jadi pesawat F-18 yang mereka tuju ada lebih dari dua pesawat. Begitu berhadapan, Hornet langsung melancarkan aksi jamming dengan sikap bermusuhan yang ditunjukkan dengan mengunci rudal Sidewinder ke pesawat F-16.
Menurut Letkol Tatang, perang jamming berlangsung sekitar tiga menit karena kedua penerbang F-18 tahu kalau F-16 memancarkan gelombang elektromagnetik dari radar F-16, pesawat Hornet juga menangkapnya. Demikian pula sebaliknya, pada saat pesawat AS memancarkan gelombang yang sama terhadap Fighting Falcon TNI AU, gelombang pesawat AS juga ditangkap radar warning receiver F-16.
"Begitu menangkap jamming mereka, kita pakai anti-jamming yang juga memancarkan beberapa bands (gelombang) dari frekuensi radar F-16. Dengan memakai auto, walaupun mereka berganti-ganti bands, kita bisa mengikuti terus (mereka)," ungkapnya mengenai perang seru ECM F-16 Fighting Falcon versus F-18 Hornet di atas Bawean.
Selama perang ECM, radar warning receiver F-16 tetap mendapatkan sinyal bahwa ada yang mengunci kedua pesawat TNI AU. Ini berarti kemungkinan ada lebih dari satu Hornet lain pada posisi lain yang terus-menerus mengikuti "perang seru" tiga menit antarkeempat pesawat F-16 dan F-18.
Untuk melepaskan diri dari penguncian tersebut, jet tempur F-16 buatan General Dynamics melakukan manuver hard break yang disebut tadi dalam kecepatan tinggi. Manuver ini juga dikenal dengan sebutan defensive manouver, di mana penerbangnya akan terkena gravitasi minimal 6g sampai 9g.
Perang tiga menit, seperti dituturkan oleh Kapten Ian Fuady, berhenti setelah F-16 yang diawaki Kapten Tonny-Kapten Satriyo melakukan gerakan rocking the wing. "Hornet, Hornet, we are Indonesian Air Force…," terdengar suara Ian dalam rekaman radar ulangan yang ditayangkan gambarnya di Lanud Iswahjudi.
"Indonesian Air Force… we are in international waters, please stay away from our ships…," terdengar jawaban dari salah satu pilot F-18 Hornet. Penerbang F-16 menjawab bahwa kedua Fighting Falcon sedang melakukan patroli dan akan menjauh dari iringan konvoi kapal perang Angkatan Laut AS.
Di markas Makassar-nya, Marsekal Muda Teddy Sumarno terus mengikuti jalan operasi identifikasi kedua F-16 yang diperintahkan menuju lokasi Bawean. "Kami memperkirakan, konvoi kapal-kapal AS dengan kecepatan 20 knot akan sampai di sekitar Pulau Madura dan Kangean 12 jam kemudian. Tepat seperti dugaan Jumat 4 Juli pagi kemarin, kami kirim pesawat intai Boeing 737 ke daerah itu dan benar pada pukul tujuh pagi pesawat pengintai menjumpai iringan kapal induk, sebuah kapal perusak dan dua kapal fregat menuju ke Selat Lombok," ungkapnya.
Menurut Marsma Teddy Sumarno, ketika Boeing 737 menanyakan dari mana dan ke mana tujuan mereka, hanya mendapat jawaban: "We are in international waters…." Dalam pengintai ini, Boeing 737 TNI AU sempat memotret kapal induk USS Carl Vinson, kedua fregat, dan kapal perusak AS yang dikawal pesawat-pesawat Hornet tersebut.
Namun, data dari mana dan akan ke mana iringan konvoi kapal-kapal Angkatan Laut AS sampai Sabtu (5/7) masih belum jelas. Ada dugaan, kapal-kapal itu datang dari utara lalu belok masuk ke ALKI 1 kemudian selama beberapa jam di barat laut Pulau Bawean melakukan latihan. Analisis lain, konvoi datang dari Selat Malaka atau Selat Sunda. Diperkirakan, setelah melewati Selat Lombok, kemungkinan konvoi tersebut meneruskan pelayarannya ke Australia atau langsung ke Samudera Pasifik.
Yang jelas, konvoi kapal induk bertenaga nuklir USS Carl Vinson menorehkan insiden Bawean sewaktu melintas di Laut Jawa. Ia memberi latihan berharga kepada penerbang F-16 TNI AU bahwa latihan sesungguhnya perang elektronika bisa menimbulkan korban di kedua belah pihak. (Dudi Sudibyo) |
|
No comments:
Post a Comment